Gosip ???14 Mei 2009
 Kata "gosip" kerap mendapat konotasi negatif. Para ahli bahasa
Indonesia mengartikan gosip sebagai obrolan tentang orang lain.
Sementara psikolog berpendapat, obrolan itu bisa berakibat baik, bisa
juga berakibat buruk. Salah satu yang melontarkan pendapat tersebut
adalah Frank McAndrew, profesor di bidang psikologi dari Knox College,
Amerika Serikat. McAndrew adalah profesor yang khusus mendalami ilmu
seputar perilaku heroik dan kebiasaan bergosip dari sudut pandang
psikologi. Menurutnya, kita tidak perlu terlalu mencemaskan
gosip, karena ini adalah bagian dari kehidupan manusia. Mengapa
demikian? Sebagai manusia, kita memiliki naluri untuk berkelompok
dengan manusia lain yang usia dan jenis kelaminnya sama. Setelah
menemukan kelompok, timbul keinginan dalam diri kita untuk
mempertahankan keutuhannya. Salah satu caranya adalah dengan berbagi
cerita. Sebab, berbagi cerita atau bergosip dapat menambah kedekatan
sesama anggota kelompok itu. Ada banyak keuntungan positif yang
bisa kita dapat dari bergosip yang terungkap dalam
penelitian-penelitian yang dilakukan oleh McAndrew. Beberapa di
antaranya adalah: Menjalin kepercayaan. "Berbagi
cerita pribadi, sama artinya dengan menitipkan kepercayaan. Teman yang
mendengarkan seharusnya bisa menjaganya," ujar McAndrew. Hal ini
melatih kita untuk mau berbagi dan percaya dengan orang lain.
Sebaliknya, kalau kita bertindak sebagai pendengar, gosip adalah ujian
bagi keteguhan kita menjaga rahasia orang lain. Menambah keakraban.
Berbagi rahasia merupakan salah satu sarana untuk mempererat hubungan.
Menurut McAndrew, ketika kita menceritakan suatu rahasia, terbentuk lah
ikatan psikologis antara kita dengan teman yang mendengarkan. Ini yang
menyebabkan kita menganggap orang lain yang tidak mau berbagai rahasia
sebagai orang luar. Mencairkan kebekuan. Kalau
kita termasuk orang yang sulit memulai komunikasi, gosip ringan seputar
kehidupan sehari-hari atau gosip tentang orang terkenal bisa menjadi
senjata ampuh untuk mencairkan kebekuan suasana. McAndrew menyebutnya
"The Power of the Particular". Adanya kesamaan pemahaman akan satu hal
bisa membuat dua orang yang tadinya tidak begitu akrab menjadi lebih
dekat. Mengontrol perilaku. Gosip dapat menjadi
sarana ampuh bagi kita untuk lebih mawas diri dan tidak bertindak di
luar norma masyarakat. Menurut McAndrew, gosip juga bisa menjadi
semacam sarana "belajar" bagi para remaja. "Orang-orang muda menyerap
begitu saja banyak hal dari gosip seputar kisah kehidupan orang
terkenal. Mereka menjadikan para selebriti sebagai panutan. Ini
terlihat dari bagaimana para remaja meniru role model-nya. Mulai dari
cara berpakaian, cara mereka menjalani hubungan asmara, hingga perilaku
mereka di dunia sosial," papar McAndrew. Melatih nalar.
Banyak informasi yang kita dengar, belum tentu semuanya benar. Sebab
itu, kita perlu menyaring mana yang hanya rumor, dan mana yang fakta.
Mana yang merugikan, dan mana yang bermanfaat. Inilah yang disebut
sebagai latihan nalar dan kecerdasan. 3 aturan bergosip positif Gosip yang sehat itu tak mustahil dilakukan. Mari kita pelajari caranya melalui kisah berikut ini: Suatu
hari, filsuf terkenal Socrates bertemu dengan seorang pria. Setelah
mengucapkan salam, sang pria berkata, "Tahukah Bapak, apa yang baru
saya dengar mengenai salah seorang teman kita?" "Tunggu
sebentar," jawab Socrates. "Sebelum kamu bercerita, saya ingin
mengajukan tiga pertanyaan terlebih dulu. Pertanyaan pertama, apakah
kamu bisa memastikan bahwa berita itu memang benar terjadi dan bukan
sekadar kabar burung?" Pria itu menjawab, "Tidak. Saya baru saja mendengar berita itu dan belum sempat memastikan apa pun tentangnya." Socrates
mengajukan pertanyaan kedua, "Apakah cerita yang akan kamu sampaikan
berisi kebaikan orang lain?" Sekali lagi pria itu menjawab tidak. Sang
filsuf mengajukan pertanyaan terakhir, "Apakah cerita itu akan berguna
buat saya, kamu, atau orang lain?" Lagi-lagi, pria teman Socrates
menjawab tidak. "Kalau begitu," simpul Socrates, "Jika apa yang
akan kamu katakan tidak benar, tidak baik, dan tidak berguna, sebaiknya
kamu simpan cerita itu di dalam hati saja. Lain kali saringlah setiap
kata dari mulutmu dengan tiga aturan itu." www.fashion-aksesoris.com
|